Peta Gempa Langsung Indonesia
Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng besar, dan tanahnya bergerak setiap hari. Halaman ini menampilkan peta gempa langsung — gempa terbaru dari katalog internasional beserta stasiun sensor komunitas GeoShake yang sedang aktif — lalu menjelaskan apa yang sebenarnya kamu lihat di sana.
Peta Gempa Langsung
Peta interaktif; tarik dan perbesar ke wilayahmu. Buka peta penuh ↗
Gempa Terkini di Indonesia
Daftar gempa dimuat dari katalog langsung. Jika tidak muncul, buka peta langsung.
Gempa dalam 48 jam terakhir di sekitar kepulauan Indonesia, dari katalog USGS dan EMSC. BMKG bukan sumber peta ini; untuk informasi resmi, rujuk BMKG.
Mengapa Indonesia Sering Gempa
Tiga lempeng bertemu di sini: Indo-Australia menunjam ke bawah Eurasia di sepanjang busur Sunda, sementara di timur Lempeng Pasifik dan lempeng-lempeng kecil Banda saling mendorong. Pertemuan itulah yang membuat Indonesia punya deretan gunung api sekaligus sumber gempa yang nyaris tak pernah diam.
Tetapi tidak semua gempa berasal dari laut. Beberapa gempa paling mematikan justru datang dari sesar aktif di darat — dangkal, tepat di bawah kota. Magnitudonya lebih kecil, namun jaraknya jauh lebih dekat, dan itulah yang menentukan seberapa keras guncangannya terasa.
| Sumber gempa | Letak | Catatan |
|---|---|---|
| Zona subduksi Sunda | Lepas pantai barat Sumatra hingga selatan Jawa | Sumber gempa terbesar dan pemicu tsunami |
| Busur Banda | Nusa Tenggara hingga Maluku | Geometri rumit, gempa dalam dan dangkal |
| Sesar Sumatera | Sepanjang Bukit Barisan, Aceh–Lampung | Sesar darat terpanjang, melewati banyak kota |
| Sesar Palu-Koro | Sulawesi Tengah | Salah satu laju pergerakan tercepat di Indonesia |
| Sesar Lembang | Utara Bandung | Dangkal, di dekat kawasan sangat padat |
| Sesar Opak | Timur Yogyakarta | Penyebab gempa Yogyakarta 2006 |
Rincian sesar darat dan kota yang dilewatinya ada di artikel peta sesar aktif Indonesia.
Gempa Besar yang Membentuk Kesiapsiagaan
| Tahun | Peristiwa | Magnitudo | Pelajaran |
|---|---|---|---|
| 2004 | Aceh–Andaman | M9,1 | Tsunami Samudra Hindia; menjadi awal sistem peringatan dini tsunami |
| 2006 | Yogyakarta (Sesar Opak) | M6,3 | Gempa "sedang" bisa sangat merusak jika dangkal dan dekat permukiman |
| 2009 | Padang, Sumatra Barat | M7,6 | Kerusakan berat di kota pesisir padat |
| 2018 | Palu, Sulawesi Tengah | M7,5 | Guncangan, tsunami teluk, dan likuefaksi dalam satu peristiwa |
| 2018 | Selat Sunda | — | Tsunami tanpa gempa pendahulu: longsoran Anak Krakatau |
| 2021 | Mamuju, Sulawesi Barat | M6,2 | Bangunan publik runtuh di daerah dengan cakupan sensor terbatas |
Cara Membaca Peta Ini
Lingkaran adalah gempa dari katalog. Ukurannya mengikuti magnitudo, dan warnanya berubah dari biru ke kuning, oranye, lalu merah seiring magnitudo naik. Lingkaran yang baru saja masuk berdenyut sebentar.
Penanda persegi adalah stasiun. Hijau berarti stasiun GeoShake T1 yang sedang online — alat khusus yang terpasang permanen. Ungu berarti sekumpulan ponsel komunitas yang sedang mengisi daya dan ikut mendengarkan. Abu-abu berarti sedang offline.
Perbedaan itu bukan kosmetik. Satu pemicu dari T1 sudah menjadi bukti tersendiri karena alatnya diam di satu tempat; satu ponsel tidak, karena ponsel bergetar beberapa kali sehari hanya karena diangkat. Jaringan baru menyebut sesuatu sebagai gempa ketika beberapa stasiun sepakat dalam hitungan detik.
Jaringan GeoShake di Indonesia
Setiap penanda di peta adalah seseorang yang memasang sensor di rumahnya. Jaringan ini tidak punya sumber cakupan lain: di tempat yang tidak ada yang bergabung, tanah tidak terdengar — dan ruang kosong pada peta bukan berarti tidak ada gempa di sana, hanya tidak ada yang mendengarkan.
Di Indonesia cakupan itu masih tipis dan tumbuh dari partisipasi. Ada dua cara ikut: aplikasi GeoShake yang mengubah ponsel menjadi pendengar saat mengisi daya, dan GeoShake T1, sensor khusus yang dipasang permanen. Keduanya menambah satu titik dengar di peta.
Perlu diingat dengan jujur: tidak ada sistem mana pun yang menjamin peringatan sebelum guncangan. Di sekitar episenter selalu ada zona buta yang tidak bisa dikalahkan siapa pun, dan satu-satunya hal yang memperkecilnya adalah adanya pendengar yang lebih dekat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Di mana bisa melihat peta gempa Indonesia secara langsung?
Di halaman ini, dengan memuat peta langsung di bagian atas, atau di map.geoshake.org. Peta menampilkan gempa katalog dari USGS dan EMSC beserta stasiun sensor komunitas. Untuk informasi resmi kebencanaan, rujuk BMKG.
Dari mana data gempanya berasal?
Dari katalog internasional USGS dan EMSC, ditambah pemicu langsung dari stasiun GeoShake. BMKG tidak termasuk sumber peta ini.
Seberapa cepat gempa baru muncul di peta?
Katalog internasional biasanya menerbitkan lokasi dan magnitudo dalam beberapa menit setelah gempa, dan peta menyegarkan dirinya secara berkala. Stasiun komunitas menunjukkan pemicunya lebih cepat, tetapi pemicu bukan lokasi resmi.
Apakah GeoShake bisa memperingatkan saya sebelum guncangan tiba?
Tidak ada sistem yang bisa menjamin itu. Peringatan hanya ada jika sebuah alat di dekat episenter merasakannya lebih dulu dan pesannya mendahului gelombang; di sekitar episenter selalu ada zona buta. Yang bisa diperkecil adalah jarak ke pendengar terdekat.
Apa arti warna dan bentuk penanda di peta?
Lingkaran adalah gempa katalog, ukurannya mengikuti magnitudo dan warnanya menguat dari biru ke merah. Persegi hijau adalah stasiun GeoShake T1 yang online, ungu adalah kelompok ponsel komunitas, abu-abu berarti offline.
Tambahkan satu pendengar di wilayahmu
Pasang aplikasinya di ponsel, atau stasiun di dinding.
Dapatkan info gempa di email Anda
Satu email singkat per bulan — panduan baru, kabar jaringan, kisah deteksi nyata. Tanpa spam; berhenti kapan saja.