Ilmu Gempa

Likuefaksi: Mengapa Tanah Bisa Menjadi Cair Saat Gempa?

7 mnt baca Oleh GeoShake Team

Pada tanggal 28 September 2018, setelah gempa M7.5 mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, dunia menyaksikan sesuatu yang mengerikan: seluruh permukiman "mengalir" seperti sungai lumpur. Rumah, jalan, pohon — semuanya bergerak dan tenggelam. Fenomena ini disebut likuefaksi, dan Indonesia memiliki beberapa contoh paling dramatis di dunia.


Apa Itu Likuefaksi?

Likuefaksi (liquefaction) adalah fenomena di mana tanah yang semula padat berubah menjadi cairan kental selama gempa bumi. Ini terjadi pada jenis tanah tertentu dalam kondisi tertentu.

Bagaimana Prosesnya?

Bayangkan tanah seperti sebuah wadah berisi pasir dan air:

  1. Sebelum gempa: Butiran pasir saling menopang, air mengisi celah di antaranya. Tanah terasa padat dan stabil
  2. Saat gempa: Getaran membuat butiran pasir kehilangan kontak satu sama lain
  3. Tekanan air naik: Air di celah-celah tanah tiba-tiba menanggung seluruh beban yang sebelumnya ditahan oleh butiran pasir
  4. Tanah "mencair": Campuran pasir-air berperilaku seperti cairan kental — bangunan di atasnya tenggelam, miring, atau terbawa arus

Analogi paling mudah: Berdiri di pantai basah, lalu goyang-goyangkan kaki Anda. Pasir yang tadinya kokoh tiba-tiba "mencair" di bawah kaki Anda — itulah prinsip dasar likuefaksi.

Syarat Terjadinya Likuefaksi

Tidak semua tanah mengalami likuefaksi. Ada tiga syarat utama:

Syarat Penjelasan
Jenis tanah Pasir halus atau lanau yang longgar (loose)
Air tanah tinggi Muka air tanah dekat permukaan (jenuh air)
Getaran kuat Gempa bumi dengan intensitas dan durasi cukup

Jika salah satu syarat tidak terpenuhi, likuefaksi tidak akan terjadi. Misalnya, tanah liat (clay) atau batuan keras tidak bisa mengalami likuefaksi.


Palu 2018: Likuefaksi Paling Dramatis di Era Modern

Gempa M7.5 Palu pada 28 September 2018 tidak hanya menyebabkan guncangan dan tsunami. Peristiwa yang paling mengejutkan dunia adalah likuefaksi skala besar yang menghancurkan seluruh permukiman.

Petobo — Desa yang "Mengalir"

  • Lokasi: ~8 km dari pusat Kota Palu
  • Apa yang terjadi: Area seluas ~180 hektar (setara ~250 lapangan sepak bola) bergerak dan mengalir selama gempa
  • Kecepatan pergerakan: Tanah bergeser hingga 2 km dari posisi asalnya
  • Rumah, jalan, dan pohon — semuanya terbawa arus tanah
  • Korban: Diperkirakan ratusan orang terkubur — banyak yang tidak pernah ditemukan

Balaroa — Permukiman yang Tenggelam

  • Lokasi: Dalam Kota Palu
  • Apa yang terjadi: Perumahan padat penduduk tenggelam ke dalam tanah
  • Bangunan terguling dan terkubur sebagian — sebagian hanya atap yang terlihat
  • Penyebab: Tanah di bawah Balaroa adalah bekas sawah dan rawa yang diuruk — persis tipe tanah yang rentan likuefaksi

Jono Oge — Sawah Berubah Menjadi Sungai Lumpur

  • Lokasi: Sebelah selatan Palu
  • Apa yang terjadi: Lahan pertanian berubah menjadi aliran lumpur yang membawa seluruh infrastruktur
  • Jalan raya terputus, jembatan miring

Mengapa Palu Begitu Rentan?

Likuefaksi di Palu sangat parah karena kombinasi faktor yang sempurna:

  1. Jenis tanah: Dataran aluvial — bekas endapan sungai dan danau kuno. Pasir halus yang longgar
  2. Muka air tanah: Sangat tinggi — banyak area dulunya rawa atau sawah
  3. Durasi guncangan: Gempa M7.5 menghasilkan guncangan kuat selama 10-20 detik — cukup lama untuk memicu likuefaksi
  4. Topografi: Area yang sedikit miring memungkinkan tanah yang "mencair" untuk mengalir (lateral spreading)
  5. Kurangnya studi risiko: Sebelum 2018, peta risiko likuefaksi di Palu sangat minim

Dampak Likuefaksi pada Bangunan

Ketika tanah di bawah bangunan mengalami likuefaksi, beberapa hal bisa terjadi:

Dampak Penjelasan
Tenggelam Bangunan berat tenggelam ke dalam tanah yang "cair"
Miring/guling Bangunan kehilangan dukungan dan miring atau terbalik
Terbawa arus Jika ada kemiringan, bangunan bergeser bersama aliran tanah
Keretakan Fondasi retak karena gerakan diferensial tanah
Sand boil Air bercampur pasir menyembur ke permukaan seperti mata air

Fakta mengejutkan: Di Petobo, bangunan yang posisinya jauh dari episenter gempa justru lebih rusak daripada yang lebih dekat — karena jenis tanah lebih menentukan kerusakan daripada jarak ke sumber gempa.


Eksperimen Sederhana: Simulasi Likuefaksi di Rumah

Kamu bisa menunjukkan prinsip likuefaksi dengan eksperimen sederhana:

Bahan yang Dibutuhkan

  • Wadah plastik transparan (seperti kotak makan besar)
  • Pasir halus (pasir pantai atau pasir bangunan)
  • Air
  • Benda kecil berat (koin besar, baut, atau mainan kecil)
  • Meja atau alas yang bisa diketuk

Langkah-Langkah

  1. Isi wadah dengan pasir halus hingga setengah penuh
  2. Tambahkan air perlahan dari bawah (tuang ke dinding wadah) hingga air hampir mencapai permukaan pasir — pasir harus jenuh air tapi tidak tergenang
  3. Ratakan permukaan dan letakkan benda-benda kecil di atas pasir
  4. Ketuk sisi wadah berulang kali dengan tangan atau sendok — simulasikan getaran gempa
  5. Amati: Benda-benda di permukaan mulai tenggelam ke dalam pasir!

Mengapa ini terjadi? Ketukan (getaran) membuat butiran pasir kehilangan kontak. Air mengambil alih beban. Campuran pasir-air menjadi cairan — dan benda berat tenggelam.


Wilayah Indonesia yang Rentan Likuefaksi

Berdasarkan jenis tanah dan kondisi air tanah, beberapa wilayah di Indonesia yang berisiko tinggi terhadap likuefaksi:

Wilayah Alasan Rentan
Palu (Sulawesi Tengah) Sudah terbukti 2018 — dataran aluvial
Pantai Utara Jawa (Pantura) Dataran rendah, tanah aluvial, air tanah tinggi
Jakarta Utara Tanah reklamasi, bekas rawa, muka air tanah naik
Delta Mahakam (Kalimantan Timur) Dataran delta, tanah lunak
Pantai barat Sumatra Dataran aluvial di kaki Bukit Barisan
Teluk Bone (Sulawesi Selatan) Endapan pantai, air tanah tinggi

Bagaimana Mengurangi Risiko Likuefaksi?

Untuk Perencanaan Kota

  • Pemetaan risiko — identifikasi zona rentan sebelum membangun
  • Zonasi penggunaan lahan — hindari permukiman padat di area berisiko tinggi
  • Perbaikan tanah — teknik seperti vibrocompaction atau stone columns untuk memadatkan tanah

Untuk Individu

  • Ketahui jenis tanah di bawah rumahmu — apakah di dataran aluvial, bekas rawa, atau tanah padat?
  • Waspadai tanda-tanda — jika setelah gempa kamu melihat air bercampur pasir menyembur dari tanah (sand boil), segera bergerak ke tempat yang lebih tinggi
  • Asuransi — pastikan asuransi propertimu mencakup kerusakan akibat gempa dan likuefaksi

📱 Deteksi guncangan gempa lebih awal. GeoShake: iOS | Android


Artikel Terkait:

Siap bergabung dengan jaringan?

Dapatkan sensor GeoShake T1 dan mulai deteksi gempa di rumah.

GeoShake T1

Bagikan artikel ini:

Dapatkan info gempa di email Anda

Satu email singkat per bulan — panduan baru, kabar jaringan, kisah deteksi nyata. Tanpa spam; berhenti kapan saja.